Benteng Talukko

Pada masanya Ternate bersama Tidore, Bacan, dan Jailolo merupakan penguasa pribumi pemegang hegemoni rempah-rempah dunia di Maluku Utara. Kestabilan sosial, ekonomi, dan politik telah terbina lama di kawasan ini sebagai hulu jalur rempah-rempah dunia.

Pedagang dari Timur Tengah dan Asia Selatan hilir mudik mendatanginya hingga kemudian bangsa Barat datang menghancurkan tatanan perdagangan yang sudah terjalin di Nusantara selama puluhan tahun.

Salah satu peninggalan penting bangsa Barat di Maluku Utara adalah Benteng Tolukko yang dibangun Portugis untuk memonopoli perdagangan cengkeh dunia saat itu. Benteng ini berada di areal seluas 1.252 m² dengan ketinggian 10,50 meter di atas permukaan laut. Meski luasnya sekira 256 m² namun posisinya strategis untuk pertahanan karena berada di atas bukit dengan sudut 80 derajat menyesuaikan dengan poros bukit. Darinya terpampang sudut pandang dataran, pesisir laut, dan akses ke laut.

Benteng Tolukko yang nama aslinya Benteng Santo Lucas merupakan salah satu peninggalan penting kolonial Portugis di Nusantara. Dibangun tahun 1540 oleh Fransissco Serao, benteng ini awalnya bernama Santa Lusia dimana kemudian berubah dan lebih dikenal sebagai Benteng Hollandia setelah Belanda menguasainya. Adapun nama Tolukko disematkan ketika benteng ini sempat dikuasai Kesultanan Ternate dan namanya diganti dengan nama Sultan Ternate ke-10, yaitu Kaicil Tolukko.

Apabila diperhatikan, bangunan benteng ini memang dirancang dengan baik seabgai basis pertahanan di atas bukit. Benteng ini menjaid saksi beberapa pertempuran demi memperebutkan kawasan stategis perdagangan rempah-rempah dunia saat itu. Benteng ini pernah diserang oleh armada Spanyol, perlawanan rakyat pimpinan Kaicil Nuku tahun 1799, dan terakhir benteng ini diambil alih oleh Belanda tahun 1610 dan direnovasi oleh Pieter Both. Tahun 1864 oleh Residen P. van der Crab, benteng ini dikosongkan karena sebagian bangunannya telah rusak.

Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan di muka bukit yang menghadap Matahari terbit, benteng ini juga dijadikan sebagai tempat untuk jalur melarikan diri. Akan tetapi, Pemerintah memugarnya kemudian menghilangkan ruangan bawah tanah dan terowongan yang menghubungkan benteng dengan laut. Meskipun demikian, benteng ini masih menyimpan nilai sejarah tinggi.

Benteng Tolukko dibangun di Bukit Batuan Beku yang memanjang ke arah Barat laut Tenggara. Konstruksinya terbuat dari campuran batu kali, batu karang, serta pecahan batu bata yang direkat oleh kapur dan pasir. Benteng ini memiliki tiga bastion (menara pengintai), ruang bawah tanah, halaman dalam, lorong, serta bangunan utama berbentuk segi empat.

Information

Find More  

Powered by pesona.indonesia.travel